BULLYING DAN TAWURAN ANTAR PELAJAR
A. PREMANISASI DI KEHIDUPAN PELAJAR
Beberapa kemungkinan terjadi premanisasi di karenakan banyak factor, beberapa di antaranaya adalah untuk mencari sensasi, mencukupi kebutuhan yang tidak penting bagi seorang pelajar.
Tapi lebih banyak dengan alasan menjaga wibawa sebagai seorang senior. Kemudian dengan dalih tersebut menjadikan system preman berkembang di instansi pendidikan di Indonesia khususnya.Yang paling menonjol adalah bullying. Biasa disebut keamanan oleh beberapa oknum yang menjalankannya.
Iklim gencet-gencetan di sekolah sebetulnya sudah lama terjadi di Indonesia. Kasus Edo Renaldo masih hangat-hangatnya. Bocah kelas 2 SD di Jakarta Timur itu, menjadi korban kekerasan di sekolahnya. Bak adegan film gangster, Edo dianiaya oleh 4 temannya di kamar kecil. Tindakan itu tidak membuat bocah-bocah yang masih ingusan itu puas. Mereka kembali memukuli Edo secara beramai-ramai di kelas. Walhasil, Edo terkapar tak berdaya, lalu malam harinya demam tinggi[1]. Lima hari kemudian ia meninggal dunia. Memang, terlalu dini menyimpulkan kematian Edo sebagai akibat ulah 4 temannya. Tapi, kejadian ini memperlihatkan, betapa kekerasan mudah ditemukan di lingkungan sekola.
Belakangan ini media kita (termasuk blog) diramaikan oleh pembahasan seputar insiden yang terjadi di Institusi pendidikan yaitu munculnya Geng wanita (NERO), pencabulan sesama murid, perpeloncoan kepada adik kelasnya ketika MOS dan sejenisnya. Insiden ini sangat memalukan didunia pendidikan.
Maraknya kasus-kasus kekerasan yang terjadi pada anak-anak usia sekolah saat ini sangat memprihatinkan kita sebagai pendidik juga sebagai orang tua. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat bagi anak menimba ilmu serta membantu membentuk karakter pribadi yang positif, ternyata malah menjadi tempat tumbuh suburnya praktek-praktek bullying, sehingga memberikan ketakutan bagi anak untuk memasukinya.
B. BULLYING DAN TAWURAN ANTAR PELAJAR
Bullying adalah bentuk-bentuk perilaku berupa pemaksaan atau usaha menyakiti secara fisik maupun psikologis terhadap seseorang/kelompok yang lebih lemah oleh seseorang atau sekelompok orang yang mempersepsikan dirinya lebih kuat.Bully adalah siswa yang dikategorikan sebagai pemimpin yang berinisiatif dan aktif terlibat dalam perilaku bullying.
Tawuran adalah salah satu bentuk kekerasan berupa pengkroyokan atau tindakan anarki yang dilakukan oleh sekelompok pelajar/tertentu kepada kelompok lain dengan motivasi tertentu.
Sekolah sebagai suatu institusi pendidikan, sejatinya menjadi tempat yang aman yang nyaman bagi anak didik untuk mengembangkan dirinya, serta menjadikan anak didik yang mandiri, berilmu, berprestasi dan berakhlak mulia. Bukan malah sebaliknya mencetak siswa - siswa yang siap pakai menjadi tukang jagal dan preman, sungguh ironis sekali.
Yang lebih ironis lagi sebagian masyarakat kita bahkan guru sendiri menganggap bullying sebagai hal biasa dalam kehidupan remaja dan tak perlu dipermasalahkan, bullying hanyalah bagian dari cara anak-anak bermain.
Beberapa penelitian yang memperlihatkan bahwa ”bullying” merupakan masalah internasional yang terjadi hampir disemua sekolah.. Berdasarkan hasil penelitian di Norwegia, 15% murid atau satu diantara 7 siswa sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) terlibat dalam aksi “bullying”.
1. Factor Pemicu Bullying dan Tawuran
a. Di tingkat mikro (individual): Rendahnya kualitas pribadi dan social siswa, yang mendorong mereka berprilaku yang tidak pro norma.
b. Di tingkat messo (komunitas): Buruknya Kwalitas dan manajemen pendidikan mendorong rasa frustasi anak yang dilampiaskan pada tindakan negative, termasuk tawuran.
c. Di tingkat Makro (umum): Persoalan pegangguran, kemiskinan dan kesulitan hidup memberi sumbangsih tiggi bagi terbentuknya Masyarakat ( termasuk siswa ) yang merasa kehilangan harapan untuk hidup layak
2. Bentuk Bullying
a. Kontak fisik langsung (memukul, mendorong, menggigit, menjambak, menendang, mengunci seseorang dalam ruangan, mencubit, mencakar, juga termasuk memeras dan merusak barang-barang yang dimiliki orang lain)
b. Kontak verbal langsung (mengancam, mempermalukan, merendahkan, mengganggu, memberi panggilan nama (name-calling), sarkasme, merendahkan (put-downs), mencela/mengejek, mengintimidasi, memaki, menyebarkan gosip)
c. Perilaku non-verbal langsung (melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, mengejek, atau mengancam; biasanya diertai oleh bullying fisik atau verbal).
d. Perilaku non-verbal tidak langsung (mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan sehingga menjadi retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, mengirimkan surat kaleng).
e. Pelecehan seksual (kadang dikategorikan perilaku agresi fisik atau verbal)
3. Dampak Bullying dan Tawuran
a. Kesehatan Fisik
Salah satu dampak dari bullying yang paling jelas terlihat adalah kesehatan fisik. Beberapa dampak fisik yang biasanya ditimbulkan bullying adalah sakit kepala, sakit tenggorokan, flu, batuk, bibir pecah-pecah, dan sakit dada. Bahkan dalam kasus-kasus yang ekstrim dampak fisik ini bisa mengakibatkan kematian.
b. Keadaaan Psikologis
Dampak lain yang kurang terlihat, namun berefek jangka panjang adalah menurunnya kesejahteraan psikologis (psychological well-being) dan penyesuaian sosial yang buruk. Dari penelitian yang dilakukan Riauskina dkk., ketika mengalami bullying, korban merasakan banyak emosi negatif (marah, dendam, kesal, tertekan, takut, malu, sedih, tidak nyaman, terancam) namun tidak berdaya menghadapinya.
Dalam jangka panjang emosi-emosi ini dapat berujung pada munculnya perasaan rendah diri bahwa dirinya tidak berharga..Kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial juga muncul pada para korban. Mereka ingin pindah ke sekolah lain atau keluar dari sekolah itu, dan kalaupun mereka masih berada di sekolah itu, mereka biasanya terganggu prestasi akademisnya atau sering sengaja tidak masuk sekolah.Yang paling ekstrim dari dampak psikologis ini adalah kemungkinan untuk timbulnya gangguan psikologis pada korban bullying, seperti rasa cemas berlebihan, selalu merasa takut, depresi, ingin bunuh diri, dan gejala-gejala gangguan stres pasca-trauma (post-traumatic stress disorder).
4. Pencegahan Bullying Dan Tawuran.
Permasalahan Bullying dan tawuran adalah tanggung jawab kita semua, termasuk siswa para pelakunya. Siswa sebaiknya selalu meningkatkan ibadahnya sesuai dengan agama masing-masing karena bullying sangat tidak baik dilakukan, Peran sekolah selau memberikan nasehat-nasehat bijak dan selalu mengingatkan dengan bullying akan mempuruk masa depan siswa itu sendiri. Peran Orang tua juga sangat dibutuhkan menanamkan etika dan moral kepada putra dan putri terbaiknya agar menjauhi bullying
A). Langkah – Langkah Pencegahan
Ada beberapa langkah yang dapat ditempuh oleh Guru-guru di sekolah dalam mengatasi permasalahan bullying di sekolah.
I .(Pencegahan) : Dalam langkah ini dimaksudkan untuk mencegah timbulnya masalah bullying di sekolah dan dalam diri siswa sehingga dapat menghambat perkembangannya. Untuk itu perlu dilakukan orientasi tentang layanan bimbingan dan konseling kepada setiap siswa.
II.(Pemahaman) :Langkah ini dimaksudkan memberikan pemahaman kepada siswa tentang bullying dan segala hal yang terkait di dalamnya, termasuk konsekuensi yang akan diterima siswa dari sekolah jika ia terlibat dalam persoalan bullying. Sehingga siswa dapat memahami bahaya dari tindakan tersebut.
III. (Pengentasan) : Jika guru pembimbing mengetahui ada siswa yang terlibat dalam permasalahan bullying, maka guru pembimbing harus segera menangani permasalahan ini hingga tuntas. Baik itu penanganan terhadap bully, korban, reinforcer dan yang terlibat bullying. Termasuk juga pengentasan dalam masalah konsekuensi yang akan diterimanya dari sekolah, karena melanggar peraturan dan disiplin sekolah.
B.) Langkah Penjagaan atau Pemeliharaan
Setelah pengentasan maka perlu dilakukan pemeliharaan terhadap segala sesuatu yang positif dari diri siswa, agar tetap utuh, tidak rusak, dan tetap dalam keadaan semula, serta mengusahakan agar hal-hal tersebut bertambah lebih baik dan berkembang.
Bagi anak-anak yang sudah terlibat bullying maka sebagai proses rehabilitasi perlu dilakukan penyaluran minat dan bakat dengan tepat ke dalam berbagai kegiatan-kegiatan ekskul di sekolah, maupun di luar sekolah. Penyesuaian diri siswa dengan lingkungan sosial serta pengembangan diri dalam mengembangkan potensi positifnya juga perlu dilakukan dalam langkah pengentasan dan yang terpenting sekali bagi pelaku bullying adalah perbaikan.
Dan dalam hal ini konselor atau guru BK juga dapat memberikan fasilitas-fasilitas pelayanaan.Diantara layanan yang dapat kita berikan kepada siswa adalah :
ü Layanan Orientasi
Menjelaskan kepada anak bahwa di sekolah ada guru pembimbing yang memberikan layanan kepada siswa secara individual yang mengajak anak untuk menyampaikan berbagai permasalahan yang dialaminya, sehingga membantu guru pembimbing dalam mencegah terjadinya perilaku bullying lebih awal.
ü Layanan informasi
Memberikan pemahaman terhadap siswa tentang bahaya dari perilaku bullying ini. karena bukan hanya orang tua yang menganggap itu sabagai kenakalan biasa. Memberikan informasi kepada siswa tentang konsekuensi yang akan diterimanya dari sekolah (hukuman) jika ia melakukan tindakan bullying.
ü Layanan pembelajaran
Agar siswa bisa berlatih berkata tidak dan menolak jika ada siswa lainnya berusaha menyakitinya atau mungkin mengajaknya untuk melakukan bullying.
ü Layanan penempatan dan penyaluran
Dengan layanan ini membantu siswa-siswa yang cenderung hiperaktif, disruptive, impulsif dan over active dapat menyalurkan energi ke dalam berbagai kegiatan sekolah. Sehinga siswa dapat menjaga keseimbangan metabolisme tubuhnya serta mengarahkannya kepada kegiatan yang positif.
ü Layanan Konseling Individual
Layanan ini sangat membantu sekali bagi siswa yang ingin curhat (istilah anak sekarang) berbagai macam permasalahannya kepada guru pembimbingnya. Dengan layanan ini siswa tidak perlu merasa takut dikatakan mengadu atau melapor jika ia menjadi korban kekerasan, atau menyaksikan perilaku bullying.
ü Layanan bimbingan kelompok
Di dalam layanan bimbingan kelompok tujuan bersama menjadi komitmen bersama. Artinya jika semua siswa bertujuan mencegah dan memberantas bullying dan tawuran bersama maka semua siswa yang ikut di dalam kegiatan tersebut memiliki komitmen yang sama juga untuk melakukannya.
ü Layanan Konseling Kelompok
Layanan ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk membahas permasalahan yang sifatnya pribadi dalam dinamika kelompok. Sehingga siswa-siswa yang terkait dengan permasalahan kekerasan ini bisa menjadikan layanan ini sebagai media untuk mengentaskan permasalahannya dengan bantuan anggota kelompok yang lain.
ü Layanan Mediasi
Guru pembimbing hendaknya dapat menjadi penghubung serta fasilitator dalam penyelesaian permasalahan bullying dan tawuran ini, karena memang persoalan ini bisa melibatkan banyak pihak yang terkait di dalamnya.
ü Layanan Konsultasi
Guru pembimbing hendaknya menjadi tempat konsultasi berbagai pihak yang terkait dengan permasalahan bullying[2].(Neneng Kurniati, 2007:12)
C.) Advokasi
Artinya setiap permasalahan yang menyangkut perilaku bullying pada permasalahan tertentu jika memang perlu untuk di laporkan kepihak yang berwajib karena menyangkut masalah tindak pidana kriminal, maka hal tersebut perlu dilakukan.Menganalisa dampak yang demikian besarnya yang dapat ditimbulkan oleh perilaku bullying di sekolah yang bisa berujung pada gangguan psikologis bahkan kematian. Penting kiranya bagi kita guru pembimbing untuk memberikan layanan yang maksimal dalam mengatasi perilaku bullying dan tawuran.
5. Penangulangan Bullying dan Tawuran
1. Mengaktifkan kegiatan Osis missal Kampaye Stop Bullying dan Tawuran di Lingkungan sekolah dengan sepanduk, slogan, stiker dan workshop tema stop bulying.
2. Mewujudkan kegiatan siswa dengan diisi kegiatan ilmiah: lomba-lomba ilmiah, olah raga bersama, dan lain-lain.
3. Guru –guru selalu mengingatkan kepada siswa-siswanya untuk tidak bullying disekolah, dirumah dll karena dampaknya negatif
4. Peran orang tua selalu peduli dengan kondisi perkembangan putra-putrinya untuk selalu memperhatikan.
C. PENUTUP
Pada akhirnya, semua kembali ke individual masing-masing. Bullying hanya sebagian kecil dari bentuk-bentuk criminal yang terjadi di instansi pendidikan. Yang mana ini terjadi sebagai bentuk pelampiyasan seorang pelajar yang merasa sendiri dan diacuhkan atau malah hanya sebagai sarana mencari perhatian saja. Yang jelas tindakan ini telah menggurita di semua instansi pendidikan, khususnya di tingkat SMP dan SMA sederajat.
Kita sebagai calon pendidik sudah sewajarnya untuk mengetahui, mempelajari, dan berusaha membantu memecahkan problematika yang sudah mengakar di sekolah atau di kampus tercinta kita ini. Semoga dengan ini kami khususnya pembuat makalah yang di Bantu Mrs Eva Palupi sebagai pengampu materi BIMBINGAN dan KONSELING menjadi awal yang baru untuk pemberantasan BULLYING dan TAWURAN.
DAFTAR PUSTAKA
1. Koran Harian KOMPAS.
2. Artikel “BULLYING” Oleh Neneng Kurniawati.
3. WWW.bimbingankonselingindonesia .com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar